Hukum

Pelaku Pembunuhan di Sungai Bahar Mengaku Tak Sengaja Gorok Leher Korban

Sep 9, 2019 07:16
Kapolres Muarojambi (tengah) saat ekspos kejadian Pembunuhan di Sungai Bahar Selatan, Senin (9/9/2019).
Kapolres Muarojambi (tengah) saat ekspos kejadian Pembunuhan di Sungai Bahar Selatan, Senin (9/9/2019).

IMCNews.ID, Jambi - Pelaku Pembunuhan di Sungai Bahar Selamet Rivai (34)  mengaku tak sengaja melakukan pembunuhan terhadap Rahmin (39) warga RT 09 Desa Ujung Tanjung Bahar Selatan Muarojambi. 

Dihadapan pihak kepolisian, Rivai mengaku dirinya mencoba menyelamatkan kakaknya yang dicekik oleh korban. Namun karena korban terus melawan, pisau yang dipakainya untuk mengancam korban malah merobek leher korban hingga tewas. 

Diceritakan oleh Kapolres Muarojambi AKBP Mardiono saat ekspos kejadian kepada awak media pada Senin (9/9/2019). Peristiwa ini bermula saat Habibullah kakak dari Slamet mendapat laporan dari istrinya Cici pada Kamis (5/9/19) sekitar pukul 14.30 WIB. 

Cici mengaku dia mendapat SMS dari korban. Ketika dibaca isi sms itu dianggap kurang sopan oleh Habibullah. Selanjutnya Habibullah pun membalas sms tersebut dan mengajak Rasmin ketemu untuk klarifikasi.

"Karena dianggap tidak pantas Habibullah coba sms Rasmin dan ajak ketemuan untuk klarifikasi. Korban pun membalas dan akhirnya tempat ketemuan pun ditentukan," kata Kapolres.

Sebelum bertemu korban, Habibullah menemui pelaku yang merupakan adiknya dan menunjukkan sms tersebut. Setelah membaca sms tersebut, pelaku langsung mengajak Habibullah untuk menemui Rasmin di tempat yang sudah dijanjikan yakni kaplingan sawit milik kakaknya Habibullah. 

Selanjutnya, Habibullah pergi ke TKP bersama pelaku dengan berboncengan sepeda motor. Tak jauh dari TKP pelaku minta diturunkan dan selanjutnya pelaku berjalan kaki melewati jalan setapak menuju ke lokasi pertemuan. Sebelum menemui korban pelaku sempat bersembunyi di balik pohon kelapa sawit. 

"Pelaku ini sempat mengintip dahulu di balik pohon sawit. Setelah melihat korban pelaku keluar dari persembunyian dan menemui korban untuk mengklarifikasi perihal SMS tersebut," urai Kapolres.

Saat itu, korban tidak mengaku kalau dialah yang mengirimi sms kepada Cici. Pelaku selanjutnya memanggil kakaknya Habibullah, turut menanyakan hal serupa. Setelah didesak akhirnya korban mengaku kalau memang dialah yang mengirim SMS ke Cici tersebut.

"Akhirnya saksi Habibullah dan pelaku mengajak korban ke kantor desa untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun saat hendak dibonceng, tiba-tiba korban langsung mencekik Habibullah," cerita Kapolres. 

Selanjutnya, pelaku meminta korban untuk melepaskan cekikannya di leher kakaknya namun tidak diindahkan korban. Akhirnya korban dan saksi pun terjatuh. Pada saat terjatuh posisi korban masih mencekik saksi. 

"Melihat kejadian tersebut pelaku langsung menarik sebilah pisau dari pinggang kiri pakai tangan kanan dan menempelkan pisau ke leher korban sambil meminta korban melepakan cekikan. Korban berontak tidak mau lepaskan, semakin lama tekanan pisau di leher semakin dalam sehingga korbanpun akhirnya meninggal dunia," ungkap Perwira dengan dua melati di pundaknya ini.

Polisi yang mendapat laporan langsung menuju ke TKP. Setiba di sana polisi mendapati pelaku ternyata masih berada di TKP dan langsung menyerahkan diri. Bersama pelaku turut diamankan beberapa barang bukti di antaranya pisau sepanjang kurang lebih 40 cm, pakaian korban, dua unit telepon genggam milik korban dan Cici serta pakaian milik Slamet.

"Pelaku dijerat dengan pasal 380 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara," pungkas Kapolres. (IMC02)