Para Saksi Tak Pernah Terima Insentif PAUD Dari Terdakwa Heriyah, Padahal..

Para Saksi Tak Pernah Terima Insentif PAUD Dari Terdakwa Heriyah, Padahal..
Sebelas saksi yang dihadirkan ke persidangan. (IMCNews.ID)

IMCNews.ID, Jambi - Sebanyak 11 orang saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jambi, untuk memberikan keterangan bagi terdakwa Heriyah, di Pengadilan Tipikor Jambi, Rabu (5/12/2018).

Heriyah tersandung dugaan korupsi dana Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Heriyah merupakan mantan ketua lembaga PAUD percontohan pusat kegiatan belajar masyarakat (KBM) Murni, dan capasity building center (KBC) Mawaddah Warohmah tahun anggaran 2012 hingga Juli 2016.

Para saksi mengaku telah menandatangi berkas yang isinya menerangkan soal dana insentif yang akan mereka dapatkan. Namun meski sudah ditandatangani, uang insentif tersebut tak kunjung mereka terima.

Mereka mengaku tak berani mempertanyakan dana insentif karena takut. Bahkan dalam persidangan tersebut, terungkap bahwa uang insentif tersebut digunakan untuk keperluan pembangunan operasional sekolah.

“Saya waktu itu 2011-2016 guru. Kami dak pernah diajak rapat, insentif yang akan diberikan, diminta untuk bangun sekolah. Namun kita tidak diajak rapat dahulu. Pemberian insentif itu saya tandatangani. Tapi uangnya tidak saya terima.” sebut Intan, salah satu saksi di hadapan majelis hakim yang diketuai Dedy Muchti Nugroho. 

“Untuk digunakan pembangunan operasional sekolah, contohnya perbaikan fisik yang rusak. Lalu ada pembangunan tribun, sampai sekarang masih dipakai pak,” tambahnya. 

Namun, saksi mengaku tidak tahu berapa anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan dan operasional sekolah tersebut.

“Kami dak berani sanggah, segan, dak enak pak,” katanya lagi.

Insentif yang harusnya diterima para saksi yang dihadirkan ke persidangan nilainya variatif. Namun, rata-rata mereka seharusnya menerima Rp 1,2 juta.

“Saya tandatangan juga. gaji Rp 500 ribu, saya dapat insentif Rp 1,2 juta di dalam berkas yang saya tandatangani itu. Cuma tandatangan, tapi tidak pernah lihat uangnya. Kertas dikasih sama Novan, disodor kan map berisi kertas yang harus ditandatangani,” terang saksi lain, Martati yang dibenarkan saksi lain. 

Bukan itu saja, terungkap juga jika ada tandatangan guru-guru honorer tersebut dipalsukan.

Menanggapi keterangann para saksi, terdakwa Heriyah memberikan sanggahan. Ia menegaskan bahwa, terkait pembangunan operasional sekolah menggunakan dana insentif tersebut telah dibicarakan melalui rapat terlebih dahulu. 

Dalam kasus ini, Heriyah diduga melakukan korupsi dana PAUD sebesar Rp 1 miliar dari total anggaran yang dikucurkan. Anggaran yang dikucurkan pada tahun 2014 senilai Rp 6 Miliar, kemudian 2015 senilai Rp 5 Miliar dan 2016 senilai Rp 7 Miliar. (IMC01)