Inforial

Para Penembus Batas

Aug 24, 2019 07:16
Suci Ayuni Pelajar asal Tebo yang menjadi Paskibra di Istana Negara. (ist)
Suci Ayuni Pelajar asal Tebo yang menjadi Paskibra di Istana Negara. (ist)

Oleh: Bahren Nurdin

Hari ini taggal 24 Agustus 2019, Desa Paseban menorehkan sejarah baru karena salah seorang putri terbaiknya baru saja pulang dari menjalankan tugas negara sebagai salah seorang petugas Pasukan pengibar Sang Saka (Paskibraka) Merah Putih di Istana Merdeka dalam rangka peringatan HUT RI-74 di Jakarta.

Tidak hanya orang Desa Paseban yang bersukacita tentunya, tapi seluruh masyarakat Provinsi Jambi, Kabupaten Tebo, juga Kecamatan VII Koto Ilir turut berbahagia dengan torehan prestasi membanggakan ini.

Diringi drumband, dibentangkan karpet merah dan tarian tradisional, ‘Sang Pahlawan’ disambut oleh orang tuanya, sanak saudara, ninik mamak, tuo tengganai,  para  pejabat desa, pejabat kecamatan, Polri, TNI dan ratusan masyarakat lainnya. Semua mengharu biru. Air mata bahagia pun berurai dari siapa pun yang menyaksikan prosesi penyambutan ini.  

Inilah kisah para penembus batas. Apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Suci merupakan salah satu anak muda milenial yang berusaha menghancurkan stigma ‘anak-anak dusun tetaplah di dusun’, atau ‘anak petani tetaplah menjadi petani’. Batas-batas itu telah terbukti bisa dilewati.

Dengan perjuangan dan kerja keras, ia berhasil menginjakkan kaki di Istana Negara, bertemu Presiden dan para pejabat negara lainnya. Sebuah mimpi yang tidak akan terbayangkan oleh anak dusun sebayanya. Saya pun ikut terharu. Hiks.

Kisah Suci Ayuni ini mengingatkan saya pada awal tahun 1998. Ketika saya dinyatakan lulus sebagai salah satu dari dua mahasiswa undangan utusan Kabupaten Bungo Tebo (Bute: Sekarang Kab. Bungo dan Tebo), yang diterima di UGM. Hampir semua orang kampung saya tidak percaya. Mustahil! Bahkan, masih terngiang sampai sekarang salah satu dari mereka berkata, ‘sudahlah, anak petani tetaplah jadi petani. Jangan bermimpi terlalu tinggi. Nanti gila”. 

Sebenarnya ini bukan ungkapan pesimistik, tapi kondisi realistis. Sangat masuk akal mereka berkata begitu bila melihat kondisi ekonomi, sosio-kemasyarakatan dan berbagai alasan lainnya yang kelauarga saya miliki. Kemiskinan menjadikan pandangan itu sangat beralasan.Tapi saya bertekad menembus batas-batas realistis itu. Berjuang dan berjuang. Yang saya ingat, pilihan saya sangat sedikit waktu itu; sukses atau mati. 

Walau pun tidak disambut dengan karpet merah seperti Ayuni hari ini, tahun 2003 saya berhasil mencatatkan sejarah manusia pertama dari kampung saya yang tamat UGM dan kedua orang tua saya adalah orang tua pertama dari masyarakat kampung saya yang berdiri di Grahasaba Pramana.  Saya berhasil menembus batas-patas itu. 

Tahun demi tahun berlalu, saya sangat bangga melihat adik-adik sekampung saya saat ini telah meraih berbagai prestasi di berbagai bidang. Banyak yang telah jadi tentara (TNI), berkarir di Polri, ASN, bidan, guru, politisi, pengusaha dan lain sebagainya.  

Hari ini, seorang Suci Ayuni kembali membuktikan dirinya sebagai anak dusun yang mampu menembus batas-batas kemustahilan. Terlahir dari keluarga sederhana, dia mampu berdiri sejajar dengan kawan-kawannya dari seluruh Indonesia. Diliput oleh berbagai media dan dihormati oleh banyak orang; membanggakan! 

Tentu saja, capaian suatu prestasi itu tidak memiliki faktor tunggal. Ada begitu banyak elemen pendukung selain doa dan kerja keras. Ada bantuan banyak orang baik langsung maupun tidak langsung, baik materi maupun moril. Kepada Allah selalu ucapkan syukur dan kepada semua orang yang telah membantu berucap ribuan terima kasih. Tundukkan hati dan buang kesombongan di dalam diri.  

Apa yang ingin saya tuliskan melalui artikel singkat ini adalah, saya ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak muda dusun saya, kesempatan selalu saja terbuka untuk kita menembus batas-batas keterbatasan yang dimiliki. Beribu kali saya sampaikan dalam berbagai seminar motivasi, ‘jangan jadikan kemiskinan sebagai kambing hitam untuk tidak berprestasi’.
 
Justru sebaliknya, karena dengan segala keterbatasan itulah kita harus berprestasi. Kejar prestasi dengan kerja keras dan tekad yang kuat. Lebih-lebih saat ini ada begitu banyak jalan dan kemudahan yang dapat ditempuh untuk menggapai prestasi baik di sekolah, di kampus maupun kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Tawaran biasiswa selalu ada bagi mereka yang siap berjuang. Sekali lagi, tidak penting kita berasal dari mana, kemana tujuan yang hendak kita capailah yang jauh lebih penting.

Sangat berharap, di masa yang akan datang, akan lahir para pejuang penembus batas selanjutnya. Mari sinsingkan lengan baju dan berjuang dengan penuh optimisme. Ingat, sukses itu tidak mudah tapi bukan pula mustahil. Allah akan membukakan jalan bagi siapa saja yang sungguh-sungguh menggapai mimpinya. 

Akhirnya, kepada adinda Suci Ayuni, saya ucapkan selamat. Walau belum sempat berjumpa, melalui tulisan ini saya sematkan pin emas sebagai tanda keberhasilanmu sebagai pejuang penembus batas. Jangan berhenti. Perjuangan sesungguhnya baru dimulai. Semoga kelak cita-citamu untuk menjadi Polwan dapat tercapai. Amin.

Sidang pembaca, asal anda tahu, orang Paseban itu hebat-hebat karena kami bisa bersepeda dalam _kolam_ dan tiap hari makan _paku_. Gak percaya? Silahkan datang dan saksikan sendiri. 

*Akademisi UIN STS Jambi