Artikel

Ngehitsnya Tanjak Gegara Si Abang Sayang Zumi Zola

Mar 25, 2017
Gubernur Jambi Zumi Zola memakai ikat kepala melayu Jambi. (dok)
Gubernur Jambi Zumi Zola memakai ikat kepala melayu Jambi. (dok)

Beberapa waktu lalu, Pakde Jokowi sukses menggegerkan dunia fashion dengan jaket bomber kece badai yang ternyata ia pinjam dari jodoh saya yang tertukar (baca: Mas Gibran). Tidak hanya jaket, sandal, sarung, payung hitam pun mendadak bergentayangan karena si Pakde.

Eh maaf, kalau payung hitam itu kan lagunya Iis Dahlia. “Payung hitam yang menjadi saksi, setiap hari diriku menanti, tak peduli hujan turun, petir menghalangi kutetap bertahan” duhh anak muda, cuma karena cinta aja sampai rela berbasah menye-menye ria. Dikira disamber petir seenak disamber berondong. Astaga, ini malah ngelantur ke mana-mana.

Jika Pakde Jokowi telah menggegerkan dunia fashion, Gubernur Jambi yang menurut survei menduduki posisi pertama sebagai gubernur paling ganteng sejagat raya (Semoga prestasi memimpinnya, seganteng wajahnya ya). Pemenang 5 kali kejuaraan Senyum Mempesona versi IPEPAYA (Ikatan Pecinta Papa Kaya) juga telah sukses membuat geger.

Ya Zumi Zola rupanya menjadi magnet tersendiri. Memiliki wajah ganteng, tubuh tegap tinggi membuat Zola enak dipandang mata keranjang saya. Ada yang bilang Zumi Zola tidak ganteng? Sini biar saya cekokin kacang panjang anak Pertanian yang habis disemprot pestisida.

Tak disangkal lagi, Zumi Zola berhasil menggegerkan hati saya dan hati Ibu-ibu PKK lainnya. Bercanda deng. Maksud saya Zumi Zola juga berhasil bikin demam ikat kepala, yang oleh warga setempat ikat kepala tersebut biasa disebut tanjak. Sebenarnya penyebutannya tidak hanya tanjak, melainkan ada beberapa istilah. Nah karena saya malas nulis, kalian cari sendiri aja ya di Google. Duhh asli busuk hati sekali saya ya.

Zumi Zola terlihat selalu memakai tanjak dalam setiap kegiatannya

Eh btw biar lebih akrab saya manggil Zumi Zola Abang aja kali ya. Toh Zumi Zola juga masih muda berstamina dan membuat bergairah. Kalau dipanggil Bapak kok ya malah mengingatkan saya dengan Bapak dosen pembimbing skripsi, dan juga skripsi saya yang kondisinya jablai. Mangkrak kayak proyek Hambalang #CurhatMahasiswiLanjutUsia #EmakInginAkuWisuda.

Tanjak mulai menjadi tren di Jambi sejak Gubernur Zumi Zola kerap menggunakan ikat kepala dalam setiap acara, mulai dari HUT Provinsi Jambi awal Januari 2017 lalu hingga menyambut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Di akun Instagram si Abang juga banyak foto menggunakan tanjak yang ia unggah. Dengan pengikut 148k, rupanya si Abang cukup berhasil menciptakan fenomena tanjak. 

Di Instagram pun berseliweran foto-foto kawula muda Jambi yang berpose manjah menggunakan tanjak. Ceritanya mau ala-ala si Abang, meniru gitu. Ya walaupun kalau mau meniru dari segi muka mission impossible ya. Kalau kata pepatah; Seperti pinang dibelah paksa. Tapi setidaknya dari segi tanjak, sudah berhasil menduplikasi si Abang.

Virzha idol ikut memakai tanjak buatan siswa SLB di Kuala Tungkal

Ngomong-ngomong tanjak ini untuk kaum Adam ya, eh yang kaum Ibu-ibu juga nggak apa-apa kalau terlanjur naksir, ya buat  ngadoin gebetan gitu, biar si doi ada aura-aura Wiro Sablengnya. Lagipula konon katanya sakitnya karena diguna-guna, jika memberi baju kepada sang pacar maka hubungan akan putus. Nah kenapa nggak ngasih tanjak aja. Ya walaupun tujuan pacaran kan emang putus. Kalau nggak putus karena berpisah ya putus karena menikah #CiyeePesanMoral.

Harga tanjak cukup terjangkau untuk yang berpenghasilan 10 koma (Maksudnya setiap tanggal 10 sudah mulai koma). Harga berkisar dari 25 ribu hingga ratusan ribu. Denger-denger sih tanjak yang paling mahal itu, tanjak yang dibuat dengan sepenuh hati, tulus tanpa modus. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia(?). Selain harganya yang ramah di kantong anak kost, dengan membeli tanjak juga sebagai upaya mempertahankan warisan budaya. Yoi mament, cintai ploduk-ploduk Indonesia.

Menjelang penghujung tulisan, saya ingin berpesan biar seolah-olah hidup saya terkesan bijak dan benar. Wahai generasi pantang tua, yuk mari kita mengganteng dengan kearifan lokal. Karena ukuran ganteng tidak hanya dilihat dari segi fisik saja, banyak jalan menuju ganteng. Bisa dengan karya, perilaku, dan prestasi. Lagipula ganteng itu kan relatif (kalau jelek mutlak).

Jangan sampai kita terjebak di kondisi lebih mecintai tampilan fisik daripada karya. Ilmuwan dunia kalau melihat Albert Einstein dari tampilan fisik maka saat ini tidak ada teknologi GPS, tidak ada pesawat terbang, tidak ada penjelajahan tata surya, tata boga, Tata Dado. Pendidikan sekolah akan kacau karena semua berpatokan pada cantik dan ganteng. Orang seperti Yanglek tidak akan punya ijazah. Nggak lucu kan jika mendadak ada dialog seperti ini di sekolah;

“Hey Jok, kenapa tidak kamu kerjakan soal ini dengan Hukum Newton”

“Aduh Bapak, Newton kan jelek kenapa tidak kita ganti dengan Ariel Noah saja,”

“Terus kamu mau kerja bagaimana?”

“Aihh Bapak Cobalah Mengerti ini soal kan Di Atas Normal jadi saya perlu Khayalan Tingkat Tinggi dalam Mimpi Yang Sempurna”

Aduh ini kenapa tulisannya jadi tamasya ke mana-mana. Ya udahlah ya, dipaksa nyambung aja biar saya bahagia. Nyenengin hati tuna asmara+mahasiswa veteran+fakir wifi dapat pahala berlipat ganda loh.

Intinya, sebagai warga Jambi yang baik dan cinta kepada Gubernurnya, mari kita turut andil untuk menjaga dan mempertahankan warisan-warisan budaya Indonesia, terkhusus Melayu Jambi. Jangan menunggu diklaim Negara lain, baru sibuk bikin aksi bela Indonesia. Kalau kata pepatah; sedia sate padang payung sebelum hujan.  Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?  

Terakhir, saya ingin mohon maaf lahir dan bathin untuk Ibu Gubernur. Buk Sherrin maafkan saya, jika setelah membaca tulisan ini Pak Zumi Zola mendadak jatuh cinta sama saya. Sungguh itu di luar nalar dan kekuasaan saya. Sekali lagi maafkan saya ya Buk Sherrin. Maaf karena saya terlalu manis.

 

*Penulis adalah mahasiswi fakultas hukum yang pernah terlibat skandal perselingkuhan dengan personil One Direction.