NENEK GERGASI DAN PUTRI KASTURI: Ketika Anak-anak Menikmati Indahnya Seni Jambi

NENEK GERGASI DAN PUTRI KASTURI: Ketika Anak-anak Menikmati Indahnya Seni Jambi
Pertunjukan teater anak oleh kelompok Teater Ananda Sekato di Jambi. (Niko/campus.imcnews.id)

Apa yang anda pikirkan ketika melihat anak-anak yang masih lucu bermain di atas panggung? Mungkin anda akan menganggap bahwa mereka hanya bermain-main tidak serius menampilkan pertunjukkan. Itu adalah hal umum yang biasa akan terjawab oleh orang dewasa.

Hal berbeda terjadi pada Sabtu (1/4) di Taman Budaya Jambi. Sekelompok anak-anak mementaskan teater dengan sangat serius. Teater yang biasanya ditampilkan oleh orang-orang dewasa dengan lakon yang bercerita tentang kesedihan atau kegembiraan hidup, ini bisa ditampilkan anak-anak yang masih sangat polos. Seolah-olah anak-anak yang rerata masih SD ini tidak mau kalah dengan orang dewasa. Anak-anak SD ini membuktikan bahwa mereka bisa menampilkannya.

Sekelompok anak-anak ini tergabung dalam Teater Ananda Sekato. Pada penampilan mereka yang kedua ini, menampilkan Lakon Nenek Gergasi dan Putri Kasturi karya Yuyun DNS dengan Sutradara Achmad Bustomi. Penampilan ini dilakukan dua kali. Pertama pada Jumat sore dan puncaknya pada Sabtu malam di Taman Budaya Jambi (TBJ). Untuk penonton sendiri begitu ramai memadati tempat duduk Taman Budaya Jambi.

Sebagai penampilan pembuka, ditampilkan sebuah pertunjukkan pantomim oleh seorang anak laki-laki yang datang jauh-jauh dari Kabupaten Batanghari. Penulis tidak mengerti alur cerita yang ditampilkan, walaupun begitu pantomim tetap ditampilkan dengan cukup baik sehingga penulis memaklumkan kesalahan yang ada.

Tibalah penampilan utama oleh Teater Ananda Sekato yakni pertunjukkan teater Nenek Gargasi dan Putri Kasturi. Cerita diawali oleh dua anak laki-laki berusaha mengambil burung elang. Anak laki-laki itu menembak burung elang dengan ketapel hingga burung itu terluka. Dua anak laki-laki tadi lalu melarikan diri karena tidak bisa mengobati burung tadi. Cerita berlanjut dengan Kasturi yang bermain dengan temannya hingga akhirnya bertemu dengan Elang. Cerita terus berlanjut hingga Kasturi bertemu dengan Nenek Gergasi.

Hal yang menarik dari penampilan teater ini adalah mereka cukup sempurna. Untuk vokal mereka cukup terdengar hingga ke belakang. Kebetulan penulis duduk di bangku belakang. Sehingga hal ini cukup menyenangkan penulis yang duduk di belakang. Selain itu, vokal mereka juga ditunjang oleh pengeras suara yang menggantung diatas panggung sehingga suara pemain yang mungkin saja tak terdengar, bisa didukung oleh alat tersebut. Untuk blocking sendiri jarang terlihat membelakangi penonton. Penulis salut para pemain mampu menghayati peran masing-masing. Ini adalah hal yang cukup mengejutkan penulis bahwa anak-anak bisa bermain teater tak kalah dengan orang dewasa.

Untuk musik sendiri digunakan musik elektrik dan musik live yang juga dari anak-anak. Ini adalah hal yang juga jarang sekali penulis temui. Biasanya pertunjukkan teater didukung oleh pemusik dewasa. Meskipun mereka masih kecil mereka mampu menghidupkan suasana panggung dengan baik beberapa bagian yang terasa tidak mungkin dimainkan dibantu oleh musik elektrik. Beberapa adegan  menyanyi yang agak sulit dalam melibatkan pemain dibantu oleh pemusik sehingga tidak terlalu membebani pemain. Secara keseluruhan pemusik menyatu dalam pertunjukkan sehingga pertunjukkan menjadi semakin hidup.

Anak-anak Dalam Dunia Seni Dewasa

Jika diperhatikan akhir-akhir ini, jarang sekali kita disuguhkan penampilan yang khusus untuk anak-anak. Seringkali kita dipaparkan dengan pertunjukkan dewasa, mulai dari sinetron yang isinya hanya cinta-cinta, penampilan musik yang hanya berfokus pada pasar orang dewasa dan banyak penampilan seni yang hanya untuk orang dewasa. Penampilan seni untuk anak-anak jarang sekali didapatkan. Seni menjadi kering untuk anak-anak. Seolah-olah dunia seni hanya dimonopoli orang dewasa.

Melalui pertunjukkan ini, diharapkan dunia seni semakin menyentuh anak-anak. Kita tidak boleh memonopoli dunia seni hanya untuk dewasa saja. Anak-anak juga memiliki hak untuk mendapatkan hiburan bagi dirinya, yang sesuai untuk dia dan umurnya. Semoga semakin banyak penampilan seni dan budaya untuk anak-anak sehingga anak-anak memiliki jiwa seni dan mau meneruskan kesenian di masa yang akan datang.

 

Febrianiko Satria, lahir di Jambi dan berkuliah di UNJA FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Sehari-hari aktif sebagai ketua Komunitas Berani Menulis.