Curcol

Menjadi Jomblo Berkelas

Jan 21, 2017
ILUSTRASI.(Istimewa)
ILUSTRASI.(Istimewa)
kpu2019

“PILIH PASANGAN ITU SAMA YANG MAU, BUKAN SAMA YANG GANTENG.” Itu kalimat yang terlontar dari adik perempuan saya yang sudah lebih dulu menikah (ya, gak perlu dijelasin kayaknya kalian sudah paham lah ya, hiks). Tak pernah saya melihat wajah adik saya memelas seperti itu.

“Percuma  ganteng kalo gak mau menghidupi kamu, bikin kamu bahagia,” tambahnya. Pada detik kedua belas, saya sudah menghabiskan sembilan puluh sembilan helai tisu. Kenapa sembilan puluh sembilan? Tanyakan saja pada Nicholas Saputra yang sudah membuat saya begini. Gak, kalimat terakhir itu bercanda. Ulala.

Ya, sebagai seonggok jomblo, saya rasa apa yang adik perempuan saya katakan itu ada benarnya juga. Ngapain coba cari yang ganteng, cantik, manis tapi punya orang? Ngapain coba sama yang ganteng, tapi selingkuhan di mana-mana? Apalagi sama yang manis, nyegerin tapi gak mau diajak susah bareng. Tolong, yang seperti itu musnahkan saja dari galaksi Bima Sakti ini.

Melihat populasi jomblo yang angkanya hampir muskil untuk ditekan, sepertinya jalan terbaik adalah memilih untuk jadi jomblo yang berbeda, dengan kualitas kepribadian yang lebih tinggi. Apa yang berbeda? Mari simak beberapa tips (untuk saya juga) yang barangkali bisa menyesatkan kita ramai-ramai ini.

Prestasi

Jomblo, boleh. Prestasi gak boleh ketinggalan. Prestasi bisa apa saja. Mungkin bangun lebih awal daripada ayam jago (jadi, gak ada istilah rezeki dipatok ayam) kita boleh sombong dengan cara: Berkokok lebih pagi daripada ayam jago itu sendiri. Terus, manfaatin waktu pagi itu untuk menambah wawasan kita. Membaca, ngerjain tugas kuliah, daaan stalking gebetan gitu (kalau baca dan tugasnya sudah dikerjakan, yang terakhir itu boleh. Tapi jangan keterusan, kasihi hati kita, Mblo).

Dengan sering membaca, kita jadi banyak tahu (yaelaaah, nenek-nenek lagi headstand juga tahu kaliiik). Karena sudah dibekali pengetahuan, bersemangatlah ikut kompetisi tingkat mahasiswa. Apa saja boleh: Essay, karya tulis ilmiah, puisi cerpen, panco misalnya.

Yakinlah, kita semua bisa terlihat ganteng atau pun cantik lewat prestasi. Dipilih salah satu ya, jangan ganteng dan cantik. Ganteng ya ganteng saja. Cantik ya cantik saja. Jomblo boleh, kehilangan identitas jangan. Tsaaah.

Etika

Ingat, jadi jomblo gak menghalalkan kita buat jadi pelaku curanmor. Sama sekali tidak. Jagalah tingkah laku kita, dimanapun kita berada. Entah itu di alam nyata, mimpi, akhirat, usahakan jaga etika kita. Nggak mau kan karena tingkah kita gak sopan terus jadi bulan-bulanan orang? Misal

“Ih, udah jomblo suka berludah sembarangan pula.”

“Ya ampun, emang dasar jomblo, jalan gak lihat-lihat!.” atau yang lebih mengerikan

“Eh jomblo, ngapain kamu mainin HP? Lagi nyebarin SMS MAMA MINTA PULSA, ya?.”

Beeeuh, saat itu juga diputar lagu Awkarin featuring Younglex, hinaku sepuasnya. Kalian semua suci aku penuh busa.

Jadi bagaimana? Memiliki etika yang baik tentunya akan membuat orang-orang merasa aman dan nyaman berada di dekat kita.

Ngaca

Ini adalah kunci utama para jomblo sekalian, kita harus sering-sering ngaca. Yaaa, siapa tahu cakepnya nambah. Kemungkinan terburuk kacanya ngambek, takut lihat kita ngaca.

Fungsi ngaca adalah untuk meyakinkan pada kita sendiri, bahwa kita berharga. Setiap manusia patut berbahagia. Kita punya alasan untuk hadir di dunia ini.

Kalaupun kita jomblo, ya sabar saja dulu. Nggak perlu pakai kode-kodean segala (yang di-kodein aja nggak peka-peka itu, gandengan sama yang lain). Hello, sadari kita ini ber-har-ga, cintai ususmu..minum yaku*t tiap hari. Jangan bergalau ria di media sosial, update lah hal-hal positif. Karena mereka yang membacanya tidak akan peduli, boro-boro peduli, paling juga like tanpa dibaca. Aduuuh.

Baiklah, itu dia beberapa tips yang lumayan menyesatkan dari saya. (makanya bacanya pakai peta, woooy)

Mudah-mudahan para tuna asmara seperti kita bisa menjadi yang berkualitas dan gak malu-maluin. Intinya, jangan murahan.

“Huh, kamu pikir aku jomblo apaan?!.”

Nggak-papa jomblo, yang penting sombong.

Salam manis! (yap, semanis harapanmu). Sampai jumpa, jodoh. (ini nulisnya sambil berdoa mudah-mudahan jodoh saya sudah lahir dan belum meninggal). Ups.