Jambi Terkini

Melihat Tradisi Selama Ramadan di Masjid Raya Magat Sari yang Tak Pernah Ditinggalkan

May 16, 2019 09:58
Masyarakat yang menyantap nasi minyak saat berbuka puasa di Mesjid Raya Magat Sari Jambi. Berbuka dengan nasi minyak tersebut merupakan tradisi turun temurun yang masih dilestarikan hingga saat ini. (ist)
Masyarakat yang menyantap nasi minyak saat berbuka puasa di Mesjid Raya Magat Sari Jambi. Berbuka dengan nasi minyak tersebut merupakan tradisi turun temurun yang masih dilestarikan hingga saat ini. (ist)

IMCNews.ID, Jambi - Masjid Raya Magat Sari Jambi menyediakan nasi minyak sebagai menu berbuka puasa untuk para musafir dan masyarakat di lingkungan masjid.

"Setiap Kamis malam Jum'at, kita sediakan nasi minyak, kalau hari-hari biasa nasi putih biasa," kata Pengurus Mesjid Raya Magat Sari, Abu Bakar Ahmad. 

Mesjid Raya Magat Sari merupakan satu-satunya mesjid di daerah ini yang menyediakan menu berbuka puasa dengan makan nasi minyak. Sehingga setiap Kamis, masyarakat yang berbuka puasa di mesjid tersebut lebih ramai dari hari-hari biasanya.

Daging sapi dan daging ayam merupakan lauk yang disediakan setiap hari untuk berbuka dengan nasi minyak atau nasi putih biasa. Menu daging sapi dan daging ayam tersebut digilir dalam setiap harinya.

"Iya, seperti hari ini lauknya daging sapi, besok lauknya daging ayam, untuk perbaikan gizi lah," kata Abu Bakar Ahmad.

Saat memasuki waktu berbuka, masyarakat yang berbuka di mesjid itu tidak serta merta langsung memakan nasi minyak. Saat menunggu waktu berbuka, diisi dengan mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh ulama setempat. Setelah penyampaian tausiah, kembali dilanjutkan dengan membaca tahlil.

Saat memasuki waktu berbuka puasa, masyarakat dan musafir di masjid itu berbuka dengan makanan ringan seperti kue dan kurma. Setelah berbuka dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah, setelah sholat baru dilanjutkan dengan menyantap nasi minyak secara bersama-sama.

Tradisi berbuka dengan nasi minyak tersebut telah berlangsung sejak puluhan tahun dan merupakan tradisi turun temurun dari para pendiri masjid itu.

"Salah satu tradisi yang masih kami pertahankan ya berbuka dengan nasi minyak ini, selain itu tradisi lainnya yang masih dipertahankan yakni membaca wirid ratib haddad sebelum ibadah sholat tarawih dilaksanakan," kata Abu Bakar Ahmad.

Wirid Ratib Al-Haddad adalah kumpulan dzikir harian yang disusun oleh Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau merupakan salah satu ulama besar di abad ke 12 hijriah. Beliau dilahirkan di salah satu kampung di Kota Tarim, Yaman pada malam ke-5 bulan Safar, tahun 1044 Hijrah. (IMCO01/ant) 


Loading...