Masker Kain Jadi Peluang Bisnis di Masa Pandemi

Masker Kain Jadi Peluang Bisnis di Masa Pandemi

*) Oleh Mutiara Nurzhahira

ERA new normal mengharuskan kita untuk beradaptasi dengan seluruh kebiasaan baru. Menjaga jarak, rutin mencuci tangan dan juga tentunya menggunakan masker dalam setiap aktifitas. 

Fenomena ini membuat para pebisnis mengeluarkan berbagai produk masker. Masker yang dibuat dengan berbagai macam bahan, ada yang bahan kain, scuba, dan lain-lain dengan motif yang beraneka ragam. Penjualan masker banyak dilakukan secara online, namun ada juga yang offline. 

Meski begitu, para ahli tidak menyarankan masker kain untuk digunakan saat ini. Walaupun keefektifannya tidak bisa dibandingkan dengan masker medis, tapi masker kain bisa dijadikan sebagai alternatif, ketimbang tidak menggunakan masker sama sekali saat harus ke luar rumah. 

Hal tersebut tentu menjadi peluang usaha bagi siapa saja yang ingin mendapat penghasilan tambahan di tengah situasi ekonomi yang cukup sulit akibat pandemi Covid-19 ini. 

Lalu bagaimana syarat membuat masker kain yang baik?

Sebelum memulai usaha, kamu harus mengetahui syarat masker kain yang baik sehingga kamu bisa memasarkan produk yang tepat untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Berikut syarat-syarat masker kain yang direkomendasikan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), yaitu pusat pengendalian dan pencegahan penyakit di Amerika Serikat:

1. *Menutup bagian tepi wajah*

Pastikan masker kain cukup lebar hingga dapat menutupi bagian pangkal hidung serta sebagian besar pipi. Kamu bisa memilih model yang persis seperti masker bedah sekali pakai maupun yang bentuknya cenderung bulat seperti masker N95.

2. *Memiliki tali pengikat atau karet telinga*

Tali pengikat maupun karet yang digunakan untuk mengaitkan masker ke telinga harus dapat menjaga masker tetap berada di tempatnya selama kamu beraktivitas. Tali atau karet yang terlalu longgar berpotensi membuat kamu lebih banyak menyentuh wajah untuk membetulkan posisi masker.

3. *Terdiri dari beberapa lapis kain*

Mengingat setiap kain memiliki ketebalan dan kerapatan struktur serat kain yang berbeda-beda, menggunakan masker yang terdiri dari beberapa lapis kain akan lebih aman menahan percikan air liur atau keringat. Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan COVID-19 menyarankan masker kain minimal terdiri dari tiga lapis kain. Tentang materialnya, Johns Hopkins Medicine, menyarankan untuk menggunakan kain katun 100%, yaitu kain katun yang ditenun tanpa campuran benang lain. Cirinya adalah, kain ini tidak melar jika ditarik.

4. *Tidak menghalangi jalan napas*

Meskipun demikian, masker yang terlalu tebal juga tidak baik karena dapat menghalangi jalan napas. Coba terlebih dahulu masker kain pilihanmu. Pastikan kamu masih bisa bernapas, namun masker tetap menutupi bagian mulut dan hidung dengan sempurna. 

5. *Jika dicuci tidak berubah bentuk*

Beberapa jenis kain dapat mengalami perubahan bentuk jika bersinggungan dengan mesin cuci. Misalnya, kain bisa melonggar karena pusaran mesin atau sebaliknya menciut karena mesin pengering. Jika setelah kamu mencuci masker berubah bentuk, pilih bahan yang lebih kokoh.

Dengan adanya kondisi ini, tentu saja peluang usaha masker kain semakin tinggi. Banyak akun media sosial dan marketplace sudah mulai menjual masker kain. Di beberapa sentra konveksi pun sudah banyak produsen beralih memproduksi masker kain karena permintaan yang cukup besar. Peluang ini tidak hanya dimanfaatkan untuk pemilik produsen, tapi juga untuk supplier, pengecer hingga drop shipper.

Usaha ini juga cocok untuk kamu yang selama ini bekerja di sektor informal dan terkena dampak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan imbauan #dirumahaja dalam rangka menekan angka penyebaran virus COVID-19. (*) 

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Jambi