Kepadamu yang Entah Mengapa Aku Bisa Jatuh Hati

Kepadamu yang Entah Mengapa Aku Bisa Jatuh Hati
ILUSTRASI. (Senna Agung/campus.imcnews.id)

Entah bagaimana, kamu tetap punya posisi istimewa di dalam hatiku. Kamu seolah punya ruangan tersendiri. Meskipun berada begitu jauh di dasar hatiku, aku sering menengok ruangan itu. Sesekali aku mengunjungi ruangan itu tanpa seorang pun mengetahuinya. Aku berjalan-jalan pelan, di sana kulihat foto-foto kita tersusun dengan rapi. Surat-surat cinta kita dipajang di dinding.

            Sepanjang perjalanan hidup manusia, mengapa kenangan tentang cinta yang tidak terbalaskan dengan begitu kejam menghujam perasaan? Atau cinta dibuat untuk mereka yang berani berjuang dan menyatakannya dengan terang-terangan di hadapan semua orang?

            Ah, manakah yang benar? Aku seperti menjawab sebuah teka-teki dengan teka-teki lain yang sama-sama membingungkan. Mengapa jalan seakan tak berujung dan cinta padamu semakin dalam? Mengapa detik-detik bergerak begitu lambat, sementara ingatan tentangmu menghantam perasaanku dengan cepat?

            Aku menarik napas panjang, mengumpulkan kenangan-kenangan dan perasaan yang selalu kembali, lalu menghembuskannya agar menguap bersama waktu, pelan-pelan aku mulai berbisik, “Semua fana, tapi cinta tidak...”

            Aku merapal mantra itu berkali-kali, semacam satu-satunya obat yang harus kutelan untuk melupakan rindu yang terus menerus kurasakan.

            Pertemuan pertama kita selalu punya kesan manis untukku. Barangkali tidak untukmu. Sore itu, sepeda motor yang kukendarai dengan begitu sial ngadat dan tidak mau bergerak sama sekali. Sial!! Aku mengumpat berkali-kali. Saat itulah kamu datang sebagai penyelamat yang terlihat sok tahu.

            “Wah, ini sih bagian mesinnya,” katamu sambil menekan-nekan tombol di bagian stang.

            “Di dekat sini ada bengkel motor, tiga kelokan, sebelah kiri jalan. Kalau kau mau, kita bisa pergi kesana. Kalau tidak, izinkan aku memperbaiki sepeda motormu sebentar. Tidak lama, kok!” katamu memastikan.

            Aku duduk di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Akar-akar pohon itu menyembul ke atas tanah, pas sekali untuk tempat duduk sambil bersandar di pohonnya. Aku memperhatikanmu yang sedang serius mengutak-atik sepeda motorku. Beberapa saat setelah itu, kau menekan tombol start. Dan ajaib, motorku hidup lagi!

            Saat itu kau memperkenalkan dirimu. Entah darimana, rupanya kau sudah mengetahui namaku, tapi aku tidak peduli. Aku berterima kasih padamu, lantas berlalu pergi.

            Hari-hari berikutnya, entah mengapa pikiranku tertuju padamu. Semakin lama ingatan tentangmu menguasai pikiranku. Aku mencoba mencari namamu di akun media sosial Facebook milikku. Sejak saat itu, kita jadi sering mengobrol via chat. Aku jadi tahu perihal tentangmu, hobimu, atau apa-apa yang kau sukai juga apa-apa yang kau benci. Kita begitu dekat dan aku menganggapmu sebagai orang yang spesial, meski tidak sebaliknya.

            Aku melihat angka-angka yang berderet di jam dinding elektronik kamarku. Sial.. bahkan selarut ini, rindu padamu masih saja membuat gemuruh hatiku.

            Maaf, karena perihal mencintaimu aku selalu tak terlihat. Tapi cinta bukan soal terlihat atau tidak, bukan? Cinta adalah soal apa yang kita rasakan dalam hati.

            Kepadamu yang entah mengapa aku bisa jatuh hati. Aku tahu kau telah memiliki tambatan hati. Tapi masa depan hati siapa yang tahu, bukan?

*Untuk Sheilla, katakanlah cinta dengan caramu sendiri!

 

Senna Agung G. Menulis puisi, cerpen dan prosa-prosa pendek. Adalah orang ganteng biasa, penikmat sepi. Hal-hal sederhana dirayakannya setiap hari. Penyuka kucing, senja juga hujan. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. Salam manis, Sampai jumpa di dunia nyata!!