Artikel

Karena Indonesia Ingin Dimengerti 01 April 2017 - 15:46:02 WIB - Penulis : Redaksi

Apr 1, 2017 07:24
ILUSTRASI.(Istimewa)
ILUSTRASI.(Istimewa)

Memahami Indonesia bukan hanya dengan sesuatu yang terlihat, karena ada nilai-nilai tak kasat mata yang semestinya bisa dimengerti secara tersirat. Begitulah yang dikatakan oleh penyair kenamaan Indonesia, Emha Ainun Najib melalui penggalan sajaknya dalam "Surga" itu Indonesia, "Aku hanya ingin bicara dengan bahasaku sendiri, bukan dengan kata-kata yang sulit dieja.  Dan aku hanya ingin mati di tanahku yang basah oleh darah dan air mata para penjajah, Tanah Indonesia!".

Ada satu kalimat pamungkas yang telah sepakat diamini oleh penjuru Tanah Air dan merdu sekali apabila didendangkan "Walaupun berbeda tetap satu jua". Ya . . Indonesia memang terlanjur ditakdirkan menjadi sebuah negara dengan ribuan perbedaan, beda bahasa, budaya, dan tata cara. Masing-masing pulau dihuni oleh kelompok masyarakat yang memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari masalah budaya, bahasa, suku, bangsa, dan agama. Bahkan, Clifford Geertz menyebut Indonesia sedemikian kompleksnya sehingga rumit untuk menentukan susunannya secara persis. Keragaman suku bangsa, seni, budaya, agama, dan bahasa telah membentuk Indonesia menjadi negara dengan struktur sosial yang multikultural.

Membanggakan sekali bukan menjadi Warga Negara Indonesia? Bangga karena pulaunya yang tak terhitung luasnya, tanahnya yang permai nan subur, tak heran jika band legendaries Indonesia, Koes Plus pernah bersyair "Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu, dan batu  jadi tanaman". Indonesia adalah permata nan indah, jutaan bahkan miliaran harta karun terbungkus dengan mempesonanya dalam hamparan birunya laut, hijaunya sawah dan kokohnya pegunungan. Indonesia adalah ibu yang memiliki semiliar "paru-paru" dari segala taman-taman di dunia.

Tak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang, Korea atau ke Eropa untuk sekadar melihat putihnya salju. Cukuplah datang ke puncak tertinggi Jaya Wijaya di tanah Papua, bisikkan juga bahwa keindahan Carstensz  Pyramid jauh lebih indah dari gunung Fuji dan bunga melati putih, bunga anggrek bulan, dan bunga padma raksasa itu ternyata jauh lebih indah dan wangi dari bunga Sakura.

Tataplah ke ujung barat Tanah Rencong, lalu perlahan alihkan ke Borneo, ke Sulawesi, ke Maluku, hingga ujung timur Irian Jaya. Kemudian perlahan turunkan pandangan ke bawah, dan lihatlah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Lombok, Bali, hingga ke Pulau Jawa. Semua yang dibutuhkan oleh manusia di dunia ini nyaris terhampar dan tersedia di negeri ini. Itulah alasan kenapa mereka para penjajah rela mati ditusuk bambu runcing.

Hari ini kita memiliki banyak persyaratan untuk bangga menjadi manusia Indonesia. Tapi, kita sering memilih membicarakan duka perbedaan, bukan suka cita kebersamaan. Mengungkap yang belum dicapai, bukan yang sudah dicapai. Menuding yang salah-salah, bukan berangkulan dalam semangat persatuan. Akibatnya, republik ini masih dirudung sukuisme.  Republik ini mengalami defisit nasionalisme.

Kita harus merombak suasana itu. Sukuisme yang masih meruyak di mana-mana harus kita putar balikkan. Sudah saatnya Indonesia dimengerti secara keseluruhan, bukan terus mengkotak-kotakkannya menurut suku ini, suku itu. Agama ini, agama itu. Walaupun dihadapkan dengan terlalu banyaknya perbedaan namun harus tetap digaungkan bahwa Indonesia adalah Indonesia.

Bersediakah kita berkaca dan menilai diri sendiri, apakah kita sudah bersikap positif dan nasionalis? Mari kita mulai membangun kembali nuansa positif dan nasionalis itu. Indonesia, siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu.

 

Penulis adalah mahasiswi Fakultas Hukum UNJA, program kekhususan Hukum Internasional. Bercita-cita menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga.