Kabar Kampus

Ini loh Cara Menjadi Mahasiswa yang Sehat dan Hemat ala Dosen FH UNJA

Feb 26, 2017 06:13
Bustanuddin dosen yang menjadi inspirasi mahasiswa Fakultas Hukum UNJA. (Facebook)
Bustanuddin dosen yang menjadi inspirasi mahasiswa Fakultas Hukum UNJA. (Facebook)

Nama Bustanuddin tentu tidak asing lagi bagi mahasiswa Fakultas Hukum UNJA.Ya dia adalah dosen FH UNJA sejak tahun 2006, kemudian menamatkan program magister di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2011. Tak banyak yang tahu kisah hidupnya semasa kuliah S1 di Fakultas Hukum UNJA. Cukup penuh liku-liku dan nestapa, yang ia lalui dengan lapang dada dan tanpa keluhan,

Berasal dari keluarga sederhana membuat keinginannya kuliah, hanya menjadi candaan tetangganya. Mana mungkin anak kampung miskin bisa mengecap bangku kuliah. Saat itu  Ayahnya bekerja sebagai penjaga Sekolah Dasar, sedangkan Ibunya berjualan lontong. Tekad yang kuat rupanya mampu menepiskan segala halang rintang yang ada. Ia diizinkan melanjutkan pendidikan, “mengorbankan” sang kakak, yang harus rela mengurunkan niat untuk kuliah. Maka dengan kesungguhan hati, ia meninggalkan Negeri Sakti Alam Kerinci memulai hidup baru  di tanah rantau.

Kondisi keuangan orangtua dan kiriman kakak kedua yang tak pasti membuatnya harus ekstra hemat dan cerdik dalam mengatur keuangan. Beruntung nilai akademiknya memuaskan, sehingga sukses mendapatkan beasiswa PPA yang sangat membantu hari-harinya.

Inilah kiat yang ia tempuh untuk menjadi mahasiswa yang sehat hemat ,dan terus survive hingga gelar berhasil diraih.

Masak-masak sendiri, nyuci baju sendiri


Mungkin terdengar seperti jones, tapi ya begitulah adanya. Pada jaman kuliah, Pak Bus begitu sapaan akrabnya memang berstatus jomblo. Ngenes atau tidaknya hanya ia dan Tuhan yang tahu. Sebagai pemain tunggal (baca:sendiri), saat itu ia memilih untuk berpedoman kepada Caca Handika. Masak sendiri, dalam artian tidak pernah membeli makanan di luar, dengan alasan masakan buatan sendiri lebih higienis dan juga ramah di kantong. Ia juga memilih menyuci baju sendiri, karena jaman itu semua harus dikerjakan sendiri.

Jalan kaki

Jalan kaki bermanfaat untuk kesehatan jiwa, raga, dan rupiah. Ya walaupun kalau jalan kaki dari Sungai Gelam ke Mendalo, gempor juga sih. Dari segi perekonomian, yang tadinya uang Rp5.000 untuk membayar ojeg bisa terselamatkan. Untuk itu mari sodara-sodara kita teriak dengan kencang“Prestasi yes, tukang ojeg no!” (sedikit pengecualian kalau tukang ojegnya Nicholas Saputra).

Btw bagi yang jalan kaki atau dalam kamus bahasa Kayu Aro dikenal dengan istilah“Neracak” kamu harus pandai menyiasati waktuya. Jangan sampai karena salah strategi jalan kaki, saat kamu telah sampai di kampus untuk belajar eh ternyata temen-temenmu yang lain sudah pada diwisuda. Saking kelamaannya kamu jalan kaki, terlalu banyak mampir di hati yang salah sih. Untuk itu usahakan kamu sudah mulai jalan kaki saat h-1 kuliah dimulai. Nggak usah nunggu hilal ataupun fatwa MUI dulu.

Jangan membakar uang (baca:merokok)

Dari segi kesehatan tentu saja; MEROKOK MEMBUNUHMU. Membunuh paru-parumu, membunuh saldo ATM-mu, membunuh orang tersayangmu dengan asap perlahannya. Eh walaupun saya anti terhadap asap tembakau, saya tetap tidak akan melarang penayangan iklan rokok loh ya, kenapa? Karena bintang iklannya ganteng.

Konsumsilah sesuatu yang lebih sehat dan murah meriah untuk menghilangkan ketergantungan terhadap nikotin. Seperti ngemut permen kaki-kaki, ngemil buah Serry, ngemil petai Cina yang banyak terdapat di UNJA. Atau jika ingin sensasi lebih menggetarkan kamu bisa ngemil kacang panjang punya anak Pertanian yang baru disemprot pestisida.

No kendaraan

Ada hal yang patut disyukuri saat si Ferrari, Lamborghini, Toyota, Yamaha, Honda, Ducati, Kawasaki, Suzuki, Miyabi (?) tidak berada di pelukanmu. Kamu nggak perlu keluarin duit buat beli bensin, bayar pajak, service kendaraan, atau ganti klakson telolet *eh udah nggak jaman ya.

Kamu bisa mengantisipasinya dengan memanfaatkan teman untuk menebeng. Simbiosis mutualisme kalau dalam istilah biologinya. Dia nebengin kamu, kamu membalas kebaikan dia dengan cara yang lebih mulia, membahagiakan pacarnya misalnya. Bisa juga kamu memanfaatkan fasilitas yang tersedia di UNJA, seperti mengendarai angsa UNJA.

Say no to gadget

Namanya juga hidup, pasti ada aja godaannya. Godaan itu juga diklasifikasikan ke beberapa bentuk.

Godaan laki-laki, aki-aki: Harta, tahta, Raisa

Godaan remaja ababil: Harta, tahta, Oppa-oppa

Godaan mahasiswa kekinian: Harta, tahta, kuota

Dalam kurun waktu setahun, berapa kuota yang sudah kamu habiskan hanya untuk nge-stalk si cinta bertepuk sebelah tanganmu itu? Berapa kuota yang sudah tergadai olehmu untuk nge-stream pidio itu-loh-itu-tu? Ingat, tak selamanya free wifi itu tersedia.

Untuk itu sodara-sodara, mari kita berdemo ke Pak Jokowi, agar memberikan subsidi kuota internet. Free wifi dari Sabang sampai Merauke.

Jomblo dulu aja ya

Bisa dibilang ini adalah point "Aksi Bela Jomblo". Walaupun dianggap hina oleh sebagian orang, ternyata menjadi jomblo itu ada hikmahnya. Kamu tidak perlu ngerengek-rengek penuh sandiwara ke orangtua untuk meminta duit karena mau "wakuncar". Tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli tiket nonton buat yayangmu. Nggak mikirin beli kado pas enip-an. Makan kenyang tanpa bayarin orang. Subhanallah. Maka nikmat ngejomblo manalagi yang kamu dustakan anak muda.

Gak pakai pomade

Poin yang terakhir ini mungkin cukup melukai hati seorang Wak Doyok yang brewokan. Bayangkan jika seluruh remaja putra keputri-putrian berdeklarasi untuk memboikot pomade. Jika itu terjadi, mungkin Wak Doyok bisa beralih kebisnis lain yang lebih berfaedah, jadi tukang jilid skripsi misalnya. Atau membuka kedai tekwan model di depan UNJA. Atau jadi pendamping wisuda saya aja uhukk uhuukk.

Wahai anak muda kekinian, mari kita menundukkan kepala sejenak. Melihat apakah ada uang recehan yang tercecer atau jejak mantan yang masih tergulir walau sakit terus mengukir *tsaahhhh.

Camkan dengan seksama apakah kiat-kiat tersebut bisa kita aplikasikan di jaman Yanglek feat AwKarin ini. Kalau saya pribadi sih, beberapa poin ya bisa diatur, seperti tidak merokok, menjadi seonggok jomblo dulu, dan nggak pakai pomade. Selebihnya? Kapal oleng kapten. Menjauh dari gadget adalah mission impossible dalam hidup saya. Gimana caranya kalau mau nge-stream drama Filipina favorit saya coba. Terus FB, IG, WA, Line Twitter, YouTube apa kabar? FYI saya ini makhluk jejaring sosial bukan makhluk sosial.

Meskipun saya pernah mendapat nilai B di mata kuliah 3 SKS di mana beliau sebagai dosen pengampu. Dan tentu saja sebagai mahasiswa normal, saya sedikit kecewa karena gagal mendapatkan nilai sempurna. Tapi itu tidak menyurutkan rasa hormat dan kekaguman saya terhadap beliau. Kisah perjuangan masa kuliah S1-nya benar-benar membuat saya takjub sekaligus heran, kok bisa ya?

Jika saya yang harus mengalaminya, mungkin saya tidak akan setangguh beliau. Lebih baik saya keluar kuliah dan menikah saja dengan Nicholas Saputra.

Terima kasih telah berbagi kisah di sela kesibukan Anda yang luar biasa. Terima kasih telah menginspirasi.

Salam IMC Kampus. Surganya anak muda^^