Sastra

HARI PUISI SEDUNIA: Apa Kabar Puisi Jambi

Mar 25, 2017 07:11
ILUATRASI.(Istimewa)
ILUATRASI.(Istimewa)

Saya teringat dengan sebuah ucapan yang dikatakan oleh salah satu juri di sebuah lomba baca puisi untuk mahasiswa. Juri itu berteriak seperti ini: "Baca puisi itu baca aja! Gak usah dinyanyikan! Emangnya nyanyi apa! Ngapain diteaterkan! Itu akan jadi teatrikal puisi!" Dalam hati saya heran sendiri sejak kapan puisi dibuat khusus harus begini begitu. Ah sungguh lucu.

Sebelum juri tersebut berteriak seperti itu. Beberapa peserta yang agak nyeleneh dengan menyanyikan puisi itu digugurkan sebelum dia menyelesaikan membaca puisinya. Wah sadis sekali. Peserta yang nyeleneh-nyeleneh itupun pulang ke rumahnya dengan sangat murung. Ya iyalah belum berperang udah kalah duluan.

Setelah bertahun-tahun berlalu. Saya menemukan sebuah fenomena yang unik. Dalam suatu gerombolan manusia (saya sengaja mengkhiasnya) ketika membaca puisi itu sama semua gayanya. Ciri khasnya begini: membaca puisi dengan penuh amarah, awalnya lemah ujungnya menggelegar dan tak lupa disertai serak-serak disetiap membaca puisi. Walah-walah itu manusia atau robot. Kok bisa menafsirkan puisi semuanya seragam semua. Saya berpikir positif saja mungkin saja ada sebuah kabel tak terlihat yang menghubungkan otak mereka sehingga mereka memaknainya sama aja. Saya ketawa-ketawa saja meskipun dalam hati masih bertanya-tanya.

Tak lupa pula beberapa minggu yang lalu teman penulis sempat curhat. Dia heran kenapa anaknya tidak lolos seleksi lomba baca puisi. Anaknya lalu ngedumel kenapa tidak terpilih. Ketika teman penulis bertanya siapa yang dipilih. Ternyata jawabnya adalah yang vokalnya besar dan baca puisinya marah-marah. Yah akhirnya terjadi lagi dan lagi.

Sekilas penulis teringat dengan tanya jawab antara teman penulis yang menjadi peserta pekan seni mahasiswa untuk cabang puisi dengan Jose Rizal Manua yang saat itu menjadi juri. Jose berkata begini: Sebenarnya kamu bebas membaca puisi seperti apapun. Kamu boleh berjingkrak kesana kemari. Kamu boleh ini kamu boleh itu asalkan tidak telanjang.

Saya kemudian mengingat beberapa puisi tradisional berbentuk sastra lisan dibacakan dengan cara menyanyi dan merintih contohnya Krinok, Senadung Jolo dan Doak. Jika jaman dulu aja dibebaskan kok tiba-tiba saja diseragamkan harus begini ataupun begitu. Wah luar biasa sekali.

Terlepas dari itu semua. Semoga puisi semakin bebas mendekati semua orang di segala lapisan. Tidak hanya mendekati golongan itu-itu saja. Tetapi juga bisa masuk ke golongan awam. Sehingga bisa terwujud puisi dari masyarakat, oleh masyarakat untuk masyarakat. Yaelah ini nyolong ungkapan siapa lagi.

Jambi, 21 Maret 2017

Febianiko Satria sehari-hari aktif sebagai Ketua Komunitas Berani Menulis. Kuliah di Universitas Jambi, Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini berstatus sebagai pejuang skripsi yang tak kenal lelah berjuang walaupun judul skripsi selalu ditolak.