Ekonomi Faktor Pemicu Pernikahan Usia Dini

Ekonomi Faktor Pemicu Pernikahan Usia Dini
Ilustrasi. (ist)

IMCNews.ID, Padang - Hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Sumatera Barat menemukan kemiskinan menjadi salah satu pemicu terjadinya perkawinan usia anak.

"Berdasarkan temuan ada anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya akhirnya orang tua menikahkan kendati dari sisi kesehatan reproduksi dan ekonomi belum siap," kata Direktur Eksekutif LP2M Sumbar Ramadhaniati di Padang, Jumat.

Pada peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2018 dengan tema Akhiri Pernikahan Usia Anak Untuk Mewujudkan Generasi Sehat dan Cerdas ia menyampaikan fenomena tersebut menjadi siklus yang terus berlanjut.

Ia melihat perkawinan usia anak membuat hak pendidikan pelaku menjadi hilang apalagi untuk mengikuti wajib belajar hingga 12 tahun sebagaimana yang telah dicanangkan pemerintah.

"Saya melihat fenomena perkawinan usia anak yaitu pada rentang umur 13 hingga 16 tahun terus meningkat," kata dia.

Oleh sebab itu perlu komitmen semua pihak untuk mengatasi persoalan ini agar lahir generasi yang sehat dan cerdas.

Apalagi persoalan pernikahan usia anak juga dekat dengan masalah gizi dan stunting yang saat ini sedang banyak dibahas untuk dilakukan pencegahan, katanya.

Selama ini LP2M melakukan edukasi kepada anak muda, kelompok perempuan muda hingga pendekatan kepada tokoh adat dan agama serta pemangku kepentingan terkait.

"Ketika tokoh adat dan agama bersuara biasanya akan lebih didengar dan dapat mempengaruhi kebijakan yang diambil pemerintah," ujar dia.

Ia menilai usia ideal pernikahan sebaiknya pada usia 21 tahun karena 18 hingga 20 disebut pernikahan dini dan di bawah 18 tahun masuk kategori pernikahan usia anak.

"Kalau usia menikah lebih matang maka organ reproduksi akan lebih siap dan pengetahuan juga lebih memadai," kata dia. (IMC01)