BPBD Usulkan Pembangunan Gedung Evakuasi Bencana

BPBD Usulkan Pembangunan Gedung Evakuasi Bencana
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Mahfuddin Noor. (ist)

IMCNews.ID, Mataram - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan mengusulkan pembangunan gedung evakuasi bencana sebagai lokasi evakuasi bagi masyarakat terdampak bencana.

"Pembangunan gedung evakuasi bencana akan kita usulkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2021," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Mahfuddin Noor di Mataram, Selasa.

Ia mengatakan, pembangunan gedung evakuasi bencana tersebut diusulkan kembali sebab usulan yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya oleh pejabat sebelumnya sejauh ini belum ada kepastian.

"Karena itulah, kita usulkan ulang dan harapan kita pemerintah bisa merealisasikan gedung evakuasi untuk Kota Mataram," katanya.

Dengan berbagai potensi bencana yang ada, katanya, Mataram sudah saatnya memiliki gedung evakuasi bencana sebagai tanggap darurat dan penanggulangan bencana bagi korban yang terdampak dan tidak bisa menempati rumahnya.

"Misalnya korban angin puting beliung, banjir, abrasi pantai atau lainnya," katanya.

Mataram merupakan salah satu dari 10 kabupaten/kota di NTB yang memiliki enam jenis bencana dari 10 jenis bencana yang kerap terjadi di provinsi itu.

Selain gempa bumi, bencana lainnya yang mengancam wilayah Mataram sebagai ibu kota Provinsi NTB adalah banjir, kebakaran permukiman, gelombang pasang atau abrasi, angin puting beliung serta rawan konflik sosial.

Sementara terkait dengan usulan lokasi pembangunan gedung evakuasi, menurut Mahfuddin, akan dilihat dengan mempertimbangkan ancamanan bencana tinggi dan orbitasinya tidak jauh dari daerah ancaman bencana tersebut.

"Kawasan Ampenan, menjadi salah satu opsi untuk lokasi pembangunan gedung evakuasi," katanya.

Selain akan mengusulkan pembangunan gedung evakuasi, tahun 2021 katanya, pemerintah kota juga akan membebaskan lahan untuk titik kumpul berupa lapangan di kawasan Bertais.

"Titik kumpul ini diperuntukkan bagi penanganan bencana gempa bumi, dan kawasan Bertais menjadi salah satu titik rawan gempa. Saat gempa bumi Tahun 2018, korban rumah rusak akibat gempa bumi paling banyak dari Kelurahan Bertais," katanya. (IMC02/Ant)