Curcol

Belajar Sisi Lain Sebuah Cinta Lewat Dilan dan Milea

Jan 19, 2019 07:21
ILUSTRASI.(Istimewa)
ILUSTRASI.(Istimewa)

Saya selalu menganggap bahwa kisah Dilan dan Milea merupakan gambaran dari bahagianya dua sejoli. Mereka mampu membawa kesan kepada kita bahwa cinta itu hanyalah bahagia-bahagia saja, susahnya seakan-akan nggak ada.

Dibandingkan dengan kisah nyata dua sejoli yang ternyata tidak semulus itu sering kita temui sehari-hari, atau kamu mengalaminya juga?

Namun, seiring berjalannya waktu, Dilan menunjukkan sifat aslinya. Tepatnya dalam novel Dilan 1991, sebentar lagi juga akan tayang di bioskop kesayangan kamu. Aku juga sayang kamu.

Seromantis apapun seorang pemuda gagah bernama Dilan, ia takkan selalu menjadi pasangan yang sempurna bagi Milea, sebab sejatinya, ia hanya lelaki biasa-manusia biasa juga. Sebaliknya, bagaimanapun keadaan pasangan kamu sekarang, ia adalah yang nyata bagimu, jadi tidak harus menuntut laki-laki yang dekat denganmu itu harus seperti Dilan. Karena kamu mau tahu? Dalam kisah Dilan 1991, mereka akhirnya putus. Dan Dilan punya pacar baru. Padahal, kurang cantik apalagi Milea? Kurang lembut apalagi? (agar-agar kalik ah, lembut).

Saran, siap-siap saja patah hati bagi yang ingin menonton film Dilan 1991 ini. Siapkan tisu. Tapi, kalau doi nontonnya sama si dia, saran saya sih kamu saja yang jualan tisu, Mbak. Sekalian kamu yang lap ke wajah mereka berdua, biar patah hatinya lebih nyata.

Begitulah sebenarnya cinta, yang benar-benar kamu cintai tapi dia tidak benar-benar mecintai kamu pun akan pergi. Jadi, jangan berjuang soal cinta ini sendirian, kecuali kalo kamu memang sudah biasa jadi ‘Solo Player’, ya itu terserah saja sih. Bebas. Tapi, apa nggak capek?

Milea harusnya belajar menerima kepergian Dilan. Saya, dan juga kamu juga mestinya mampu memahami bahwa cinta itu bukan tetang kesempurnaan, melainkan soal perjalanan jauh yang butuh dua orang—yang mau saling mengisi. Dan kalau dia tidak bisa menghargai cinta yang sudah kamu berikan, maka temukan yang bisa.

Selamat akhir pekan, salam kangen!

 

*Penulis mengaku sebagai perempuan biasa yang benar-benar biasa aja.


Loading...