Artikel

BAHASA DAERAH: Masihkan Menjadi Kebudayaan Nasional Kita?

Apr 9, 2017 07:44
ILUSTRASI.(Istimewa)
ILUSTRASI.(Istimewa)

Bahasa daerah merupakan kebudayaan nasional dan identitas Negara. Indonesia memiliki 748 bahasa daerah menurut Wikipedia. Sedangkan menurut BPS ( Badan Pusat Statistik) bahasa daerah pada tahun 2010 berjumlah 1158 bahasa. Melihat banyaknya bahasa daerah yang ada di Indonesia maka upaya untuk melestarikanya sangat dibutuhkan. Karena dari beberapa bahasa daerah yang ada, terancam kepunahannya. Bahkan ada bahasa daerah yang telah punah. Bahasa daerah yang telah punah itu berjumlah 14 bahasa yakni, 10 bahasa di Maluku Tengah, bahasa Hoti, Hukumina, Hulung, Serua, Te'un, Palumata, Loun, Moksela, Naka'ela dan Nila. Dua bahasa punah juga di Maluku Utara yakni Ternateno dan Ibu. Serta dua bahasa berasal dari Papua yakni Saponi dan Mapia.

            Mengingat pentingnya bahasa daerah pemerintah telah mencantumkannya di dalam peraturan UUD tahun 1945 pasal 32 ayat (2) : Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Oleh karena itu dalam upaya melestarikan bahasa daerah maka seharusnya pemerintah menerapkan bahasa daerah yang ada di kurikulum sebagai pembelajaran ekstrakulikuler dalam dunia pendidikan.

            Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (jilid V), merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Sedangkan sekolah menurut KBBI ( Poerwadarminta:1999) adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran atau menurut tingkatannya, ada sekolah dasar, sekolah lanjutan, dan sekolah tinggi.  Pendidikan di dalam sekolah inilah yang diharapkan akan mampu memperdalam pembelajaran bahasa daerah di sekolah yang berada di daerahnya masing-masing.

            Adanya pembelajaran bahasa daerah yang berada di kurikulum sebagai pembelajaran ekstrakulikuler di sekolah, yaitu memasukan bahasa daerah dalam pembelajaran muloq, dengan menyediakan tenaga pengajar yang ahli dalam bahasa daerah itu atau keabsahannya yang telah diakui. Sehingga bisa menjadi bahan pembelajaran yang baik bagi generasi untuk lebih memperdalam bahasanya, bisa juga untuk menarik perhatian dan  meningkatkan minat serta menimbulkan rasa cinta terhadap bahasa daerahnya. Caranya, sekolah tersebut mengadakan perlombaan berupa lomba lagu daerah, mengarang cerpen menggunakan bahasa daerah,  drama bahasa daerah, dan lain sebagainya.

            Hal ini diharapkan dapat melestarikan bahasa daerah dimulai dari tingkat dasar. Sebab dilihat dari perkembangan arus globalisasi saat ini, dan maraknya penyebaran budaya di luar negeri yang masuk ke dalam Negara Indonesia dengan mudahnya kepada para generasi penerus bangsa. Seperti Korea Wave atau K-pop menyebabkan banyak generasi yang lebih suka menggunakan bahasa korea dibandingkan dengan bahasa daerahnya sendiri. Bahkan mengikuti kebudayaan di negara tersebut tanpa adanya slektif dan berfikir kritis. Belum lagi adanya kebudayaan yang lain dari negara tetangga berupa makanan dan lain sebgainya. Secara tidak langsung hal itu telah mengurangi rasa cita terhadap tanah air yaitu cinta kebudayaan nasional kita.

            Lalu siapakah yang bertanggung jawab terhadap kebudayaan nasional kita? Kebudayaan nasional kita merupakan tanggung jawab dari semua pihak. Baik pemerintah, masyarakat dan generasi kita. Maka dari itu, generasi penerus bangsa kita dan masa depan bahasa daerah kita tergantung pada generasi penerus bangsa kita. Jika bahasa daerah penuturnya semakin bekurang, maka dengan berangsurnya waktu bahasa daerah kita akan terancam punah bahkan akan punah.

            Sebagai generasi yang baik, kita harus mencintai kebudayaan nasional sendiri. Karena jika bukan kita siapa lagi, jika bukan sekarang kapan lagi, maka dari itu mari kita bersama-sama mencintai dan melestarikan kebudayaan nasional kita, yaitu bahasa daerah atau yang dikenal dengan bahasa ibu dengan mempelajarinya. Karena bangsa yang hebat adalah bangsa yang memiliki kebudayaan nasional yang kuat.

 

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/06/14-bahasa-daerah-di-indonesia-kini-punah

*Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang lahir di Bukit Peranginan, 04 Juli 1999. Saat ini aktif sebagai mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jambi. Kumpulan karya yang dimuat dalam beberapa antologi diantaranya: Teror (2016), Hakikat (2016), Nestapa (2016), Gelora (2016), dan Maut (2017). Saat ini tinggal di Komplek Bumi Mendalo Asri, Blok Q No. 39, Rt 04 Mendalo Indah, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.