Bagaimana Internet Sangat Berguna Saat Pandemi

Bagaimana Internet Sangat Berguna Saat Pandemi

*) Oleh Ulul Azmi

COVID-19 menjadi pandemi  cukup merepotkan bagi umat manusia, hal itu dikarenakan keharusan kita melakukan pembatasan sosial dengan sangat ketat guna mengurangi peenyebaran.

Keterbatasan interaksi sosial sacara tatap muka menjadi masalah vital terhadap perkembangan proses kehidupan sosial kita. Bagaimana tidak. covid ini menyerang dengan interaksi  jarak berdekatan melalui (droplet) yang di bawa oleh pembawa virus (carrier).

Maka  Beruntungnya pada era sekarang perdaban kita sudah mengenal internet, yang menyambungkan proses interaksi sosial jarak jauh melalui medium digital yang kita gunakan, mulai dari  hiburan virtual seperti streaming drama korea  dan konser musik saat pandemi,  informasi pun dengan sangat cepat dan mudah bisa kita dapatkan, dimana informasi yang cepat menjadi salah satu kunci untuk menaggulangi dampak paparan.

Selain itu internet memungkin proses pekerjaan hingga belajar bisa di lakukan dengan jarak jauh bahasa populernya work from home (wfh).

Lalu bukakankah intenet sebuah anugrah.?  teknologi di buat memang untuk memudahkan kehidupan manusia, dan teknologi internet menjadi teknologi terbesar pada abad ini sampai saat ini teknologi internet sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat setiap dekadenya. Internet berkembang pesat dari generasi ke generasi mualai dari first generation (1G), second generation (2G), third generation (3G), fourth generation (4G) Hingga yang bikin riuh bebrapa bulan ini tentang konspirasi 5G.

Lihat saja setiap sisi kehidupan kita hampir semua sudah berhubungan dengan intenet, secara sederhana internet menjadi alat yang kita gunakan untuk mencari hal-hal yang penting seperti mengakses informasi, berbelanja di online shope, hingga anak muda yang mencari jodoh di aplikasi dating seperti thinder dan lain-lain.  

 internet menjadi teknologi yang berpengaruh bagi peradaban umat manusia pada saat ini.

Terbukti saat pandemi covid-19 menyerang  ketika manusia berada pada posisi tidak memungkinkan untuk berkerja di tempat kerja. Dan harus berkerja dirumah internet menjadi alat penopang kerja jarak jauh (remote working) berkerja di rumah menggunakan jaringan internet, kita bisa berkerja seperti di kantor menggunakan aplikasi video conference seperti zoom dan google meet. 

Atau pelajar mahsiswa yang belajar dari rumah dan diskusi serta seminar di kampus semuanya telah beralih ke internet atau kita kenal sebagai webbiner atau seminar web. 

Aktivitas manusia semakin mudah  karena teknologi internet, Alvin Toffler  seorang futurolog dalam bukunya yang berjudul third wave (1980). Dalam bukunya Alvin tolffler menulis bahwa manusia  akan mampu menciptakan teknologi yang dapat mengubah budaya kerja.

Kantor dapat beroperasi dengan biaya murah dari rumah dan tempat mana pun. Disokong oleh perangkat teknologi, komputer, hingga peralatan konferensi jarak jauh.

Selain itu internet membantu kita dalam menyebarkan informasi tentang covid, kita hanya perlu mengetik kata kunci “covid 19” pada mesin pencarian saja,  maka semua informasi  tentang tinkat penyebaran setiap wilayah hingga yang terpapar dengan mudah dapat kita akses.

Lebih dari itu internet juga bisa membantu mitigasi penyebaran wabah dengan menggukan big data.  big data sendiri Menurut (Dumbill, 2012) , Big Data adalah data yang melebihi proses kapasitas dari kovensi sistem database yang ada.

Data terlalu besar dan terlalu cepat atau tidak sesuai dengan struktur arsitektur database yang ada. Untuk mendapatkan nilai dari data, maka harus memilih jalan altenatif untuk memprosesnya.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa Big Data adalah data yang memiliki volume besar sehingga tidak dapat diproses menggunakan alat tradisional biasa dan harus menggunakan cara dan alat baru untuk mendapatkan nilai dari data tersebut.

Sederhananya big data merupakan infomasi dengan jumlah yang besar dan memiliki jenis yang beragam. Data tersebut di dapatkan pada saat kita berkunjung di situs web, aplikasi seperti gojek dan online shop di ponsel pintar kita.

Lalu bagaiman bisa biga data menjadi alat untuk mitigasi pandmei?

Melihat tindakan china sebagai episentrum penyebaran virus, china menggunakan big data untuk melakukan mitigasi pandemic ini.

Hangzhou menjadi kota pertama yang menggunakan big data untuk menangani persebaran korona. Mereka menamai sistem tersebut dengan “Satu peta, satu QR code, dan satu indeks.”

Berikut cara china mengimplementasikanya.

1. Pertama, setiap orang harus memonitor dan mencatat temperatur mereka. Pembaruan berkala dilakukan setiap hari untuk meninjau status kesehatan setiap individu.

2. Kedua, database kesehatan dikelola dan diawasi oleh Hangzhou’s Center for Disease Control and Prevention ( Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Hangzhou)

3. Ketiga, QR code digunakan oleh semua orang, baik di dalam kota maupun yang hendak memasuki kota. Kode hijau, tandanya dapat bergerak bebas. Kode kuning, harus menjalani karantina selama tujuh hari. Kode merah, karantina selama 14 hari. Kode kuning dan merah dapat berubah menjadi hijau pasca-karantina.

Sistem ini sudah diterapkan di Provinsi Zhejiang dan akan diimplementasikan di provinsi lainnya. Dikutip dari vava.co.id

Ini menjadi bukti bawa pada saat pandemi internet menjadi teknologi yang sanggat berpengaruh bagi peradaban umat manusia, dengan kecanggihan teknologi internet kita semakin mudah terselamatkan saat pandemi menyerang. Bukankkah itu sebuah anugerah.?

*) Penulis adalah Mahasiswa UIN STS Jambi jurusan jurnalistik fakultas dakwah semester VI. Tulisan ini dalam rangka memenuhi tugas saat pandemi.