Artikel

Antara Sumpah Pemuda dan Bahasa Anak Muda Sekarang

Dec 8, 2018 04:26
ILUSTRASI.(Istimewa)
ILUSTRASI.(Istimewa)

Nani Nirwani

Perayaan hari Sumpah Pemuda erat kaitannya dengan penetapan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional kita. “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Kalimat ini sontak membuat kita ingat dengan momen tersebut. Sudah sembilan puluh tahun kita merayakan secara seremonial hari Sumpah Pemuda. Lantas bagaimana dengan penggunaan bahasa Indonesia sekarang? 
Kemajuan teknologi yang semakin berkembang, memaksa para kaum muda di zaman sekarang kurang memperdulikan penggunaan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia lebih sering kita jumpai saat suasana formal, hal inilah yang menjadi dasar bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang formal. Kita jarang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dikeseharian.  
Salah satu pengamat bahasa Ivan Lanin pada acara CNN Indonesia mengatakan bahwa orang indonesia cenderung mengetahui tiga bahasa. Yang kita kenal pertama kali adalah bahasa ibu (bahasa daerah), lalu saat sekolah mempelajari bahasa kesatuan yakni bahasa Indonesia, dan yang terakhir adalah bahasa asing yang kita peroleh dari lingkungan. Ini yang membuat bahasa pemuda Indonesia cenderung bersifat dinamis dan mudah berubah sesuai dengan fenomena bahasa yang berkembang.
Hal ini sangat dilematis melihat sikap bangsa Indonesia yang cenderung ambivalen terhadap bahasa. Artinya, di satu pihak kita menginginkan bahasa Indonesia menjadi modern, dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Tetapi, di pihak lain kita telah melunturkan identitas itu dengan lebih banyak mengapresiasi bahasa asing dan bahasa gaul sebagai lambang kekinian. Lantas tidak heran jika para remaja masa kini lebih memilih menggunakan bahasa asing dan bahasa gaul sebagai budaya jika tidak ingin disebut ketinggalan zaman. Alhasil bahasa asing dan bahasa gaul merajalela di negeri sendiri. 
Merajalelanya bahasa asing dan bahasa gaul didasari dari beberapa anggapan. Misalnya pada bahasa asing, banyak anggapan bahwa menggunakan bahasa Inggris mencerminkan tingginya intelektual seseorang, menggunakan bahasa Korea dianggap gaul, dan bahasa arab dianggap berbudaya keislaman. Sebagai contoh nyata pemuda sering mengucapkan terima kasih dengan kata Thanks, kamsahamida, dan Syukron. Lalu lebih memilih mengucapkan maaf dengan kata Sorry, Mianhe, dan Afwan. 
Berbeda dengan bahasa asing, bahasa gaul mengalami perkembangan sangat pesat. Tercatat bahasa gaul mulai digunakan pada tahun 1970-an hingga sekarang. Mulai dari bahasa Prokem, bahasa Alay, bahasa Kekinian, sampai pada fenomena bahasa Jaksel yang sedang marak diperbincangkan warganet. 
Kuy, kita pergi’, ‘biasa aja shay’, ‘hayuk main hayuk’,  Alih-alih ingin gaul, perkembangan bahasa seperti ini selalu saja menjadi sorotan kaum muda. Kosakata bahasa gaul yang berkembang belakangan ini sering tidak beraturan atau tidak ada rumusnya. Tetapi, anak muda langsung menggunakan dan hafal setiap kali muncul istilah atau kata baru. 
Misalnya lagi pada  fenomena bahasa jaksel, orang sering mengucapkan ‘ada problem apa?’, ‘gua udah ready bentar lagi otw’, usually, literally, basically. Fenomena seperti ini disebut dengan campur kata. Yakni, mencampuradukan bahasa Indonesia dan Bahasa inggris sebagai trend dalam berbicara. Mereka sengaja memoles kata dengan sedimikianrupa sampai mereka menemukan kalimat yang komunikatif dan trend bagi mereka. 
Namun, apa yang menjadi alasan anak muda sekarang lebih fasih memakai bahasa asing dan bahasa kekinian? Melaui sistem wawancara didapatkan beberapa alasan yang mendasarinya: (1) penggunaan bahasa asing merupakan pembiasaan diri sebagai keseimbangan pengetahuan terhadap bahasa selain bahasa Indonesia;(2) menggunakan bahasa asing atupun bahasa kekinian dianggap lebih akrab dikalangan anak muda karena jika menggunakan bahasa Indonesia pembicaraan cenderung kaku dan tidak nyaman;(3) penggunaan bahasa asing telah menjadi mode trend idol zaman sekarang, misalnya pada penggunaan bahasa Korea yang dianggap dekat dengan budaya K-pop.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia mulai tenggelam dan tergerus perkembangan zaman. Kita hanya fokus dan sibuk untuk mengenal bahasa baru yang kita angap lebih menimbulkan efek fleksibel dikalangan anak muda. Namun, sebagai pemuda kita mempunyai kewajiban menjunjung tinggi bahasa persatuan kita sesuai dengan butir ketiga pada sumpah pemuda. Yang kita perlukan adalah kesadaran dan motivasikan diri akan fungsi dan pentingnya bahasa yang baku. Selanjutnya, kita juga membutuhkan suatu upaya pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia. Artinya, kita dapat melatih diri untuk terbiasa berbahasa secara tepat, baik secara lisan maupun tulisan. Pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa serta akan menimbulkan keinginan remaja untuk mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Jadi, pada intinya kita sebagai pemuda bangsa Indonesia seharusnya dapat memotivasi diri menjadi pemuda Indonesia yang ideal dengan perkembangan bahasa. Pemuda Indonesia yang ideal dengan perkembangan bahasa adalah mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.