Aku Suka Manis dalam Larutan Pahit

Aku Suka Manis dalam Larutan Pahit
ILUSTRASI.(Istimewa)

Nhavia Dwi .F

Aku tak suka pahit,
Lalu kau tambahkan gula dalam cangkirku
Sejak itu aku suka manis dalam larutan pahit
Walau kau tetap yang temanis untukku.

Setelah kau datang mengenaliku pada manis dalam pahitnya secangkir kopi,
Kau menghilang.
Sejak itu aku pun mencintai hambar

Aku bukan pencinta kopi hitam bukan pula kopi pahit
Karena bagiku larutan susu dalam seduhan kopi adalah kesempurnaan.
Hitam dan putih, simbol yang tepat untuk makna kehidupan.

Kamu tak perlu berbohong.
Bagaimanapun besar cintamu takkan bisa kau sembunyikan dari sudut bola matamu itu.

Kamu tau?
Selama awan membumbung tingi tapi tak pernah sekalipun ia menyentuh langit?
Ia masih menjaga harkat dan  martabat sang langit.
Dan kau baru ku persilahkan memandangku, namun malah luka yang kau beri
Ironinya aku suka luka yang kau beri.

Apa hal yang lebih menyakitkan dari menahan rindu dikala hujan?
Mengagumi dalam diam, ingin memelukmu namun tak sampai, dan hati meronta bahwa itu tak pantas.

Sampai suatu ketika saat rintik itu mengenai kulitku, tak lagi ada yang ku rasa kecuali pilu dan luka.
Sebab cerita yang kau rajut bersamaku acap kali terjadi saat bumi mulai basah.




Dulu kau bilang aku adalah waktumu yang paling berharga.
Lalu kenapa kau sia-siakan aku yang padahal jika tiadaku waktumu berhenti berdentang?
Kamu tau apa itu luka? 
Luka adalah sat aku menyayangimu, begitupun kamu terhadapku, 
Namun semesta tak menyayangi kita.
Ia turunkan meteor-meteor menghujam kemesraan antara kita
Hingga ekspansi problema pun tak terbendung.
Kamu tau apa itu pilu?
Ialah ketika tak lagi ku rasakan dekapmu saat petir menyambar.